Selamat Datang di Komunitas Pembelajar

NYANYIAN SERAK DITEPIAN SENJA


Seperti kepak sayap merpati, jejak waktu bergerak tak mengenal kata permisi, ia menggilas, menerjang setiap jejak-jejak kesadaran, jejak sejarah, dan jejak peradaban. Tapi disebuah titik, jauh dimasa keakanan, ia akan melirik jejak-jejak yang pernah ada. Bukan untuk mengenangnya ataupun menangisinya, tetapi ia akan mencatat dalam helai lembaran ingatan masa lalu.

Peradaban tidak pernah mengenal berhenti, ia terus berpacu dengan waktu, ia tidak hanya bergerak secara linear tetapi terkadang harus bergerak secara acak, siklus ataupun melakukan loncatan-loncatan.

Kebudayaan sebagai anak kandung peradaban, kerap harus bereinkarnasi. Ia harus tunduk pada hukum sejarah. Lahir, berkembang, berjaya, keropos, lalu akhirnya terkubur.Benarkah selalu ada senjakala kebudayaan? Masa dimana kebudayaan bergerak tak terkendali menuju liang kubur sejarah peradaban.

Kebudayaan dan peradaban terjebak ditepian senja ketika telah sampai pada masa dimana tak lagi punya ruh zaman, ia tidak lagi dianut oleh pemeluk pada zamannya. Ia tinggal menjadi memori dalam ingatan. (Orasi Kebudayaan: Maulana Asfar Nurdin)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar